Jumat, 20 November 2015

Cepat berhenti bekerja, boi!

     Akhir-akhir ini kepala gue diisi banyak alasan mengapa gue harus cepat berhenti bekerja. Gue adalah salah satu orang yang mudah sekali bosan. Bangun, bekerja, pulang. Rutinitas orang kebanyakan. Dan lucunya, gaji per bulan-gue tidak lagi sebanding dengan tugas yang kini gue emban. Minta naik gaji, ah! ha.ha.

     Ingin sekali kegiatan pagi gue tidak lagi dikejar-kejar oleh jam masuk kantor. Kopi atau teh selalu saja tersisa setengah gelas dan kadang lebih. Lagu-lagu kesayangan seperti Padi, Sheila on 7, dan Artic Monkeys tidak sampai khatam diputar. Makan dan minum si Boi sering lupa gue siapkan. Sering si Boi mencaci-maki gue habis-habisan saat gue baru saja pulang dari kantor.  "Kampret lw, gue gak dikasih makan", sumpah si Boi dalam kicauannya. Boi adalah nama burung kenari gue yang dibeli dari Mas Ato. dan Mas Ato sendiri adalah teman kerja gue yang tidak lain adalah penjual aneka macam burung peliharaan.

Sabtu, 07 November 2015

Yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah: meningkatnya minat berkomentar - @zenrs

Hilang sudah kantukku setelah aku mengikhlaskan Sabtu siang-ku habis dimakan ranjang kasur.

Dan belum juga benar-benar sadar; pikiran-ku tiba-tiba melayang ke rak buku. Ternyata masih banyak buku di sana yang belum aku baca. Niatku, sebelum tahun 2015 ini berakhir, aku harus, wajib dan kudu selesaikan semua buku itu.

  • Padang Bulan - Andrea Hirata 
  • Muhammad (Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik) - Martin Lings (Abu Bakr Siraj al-Din) ; Buku minjam sama Abang Evan 
  • Poirot Melacak - Agatha Christie ; Buku minjam sama Abang Royhan 
  • Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh - Dee Lestari 
  • Breaking Night - Liz Murray ; Buku minjam sama Abang Royhan lagi 
  • Lupa Endonesia deui - Sujiwo Tejo 
Lumayan ada enam buah buku. Bulan November dan Desember gak usah mampir ke gramedia dulu deh!

Mari membaca, kurangi berkomentar :)

Jumat, 06 November 2015

Gotong royong ala eyang Pramoedya Ananta Toer

Awal bulan November ini, aku kembali membaca novel karya Pramoedya yang lain. Setelah, Bukan Pasar Malam. Kini, aku menyelami Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Novel ini adalah hasil reportase singkat Pramoedya di wilayah Banten  Selatan. Wilayah yang subur tetapi masyarakatnya miskin. Aneh? Iya.

"Aku sudah bosan takut. Sudah bosan putus asa" adalah kalimat pertama yang tertulis di novel ini. Adalah sikap Ratna yang tidak pernah menyerah menghadapi kekejaman, kesewenang-wenangan Juragan Musa.

Novel ini menghidupkan kembali sifat tolong-menolong dalam kegiatan gotong-royong melawan penjajahan yang dilakukan manusia tetapi berprilaku sepeti binatang buas.

Jadi, penting untuk pemuda zaman sekarang membaca buku ini!

Cover jadul :)

Minggu, 18 Oktober 2015

Pramoedya Ananta Toer - Bukan Pasar Malam

Buku pertama karya eyang Pramoedya Ananta Toer yang saya beli adalah "Bukan Pasar Malam". Sebenarnya banyak sekali buku eyang Pram yang saya ingin beli. Bumi Manusia, Rumah Kaca, Arok Dedes dll. Hanya saja keuangan bulan ini kurang memadai.

Setelah membaca roman ini, saya mengagumi ideologi penulis yakni pramisme (haha) yaitu paham yang hanya berpihak pada keadilan, kebenaran, dan kemanusiaan.

Pramoedya Ananta Toer (lahir di BloraJawa Tengah6 Februari 1925 – meninggal di Jakarta30 April 2006 pada umur 81 tahun). Selengkapnya bisa dikunjungi alamat ini https://id.wikipedia.org/wiki/Pramoedya_Ananta_Toer atau http://pelitaku.sabda.org/11_fakta_mengenai_pramoedya_ananta_toer dan http://profil.merdeka.com/indonesia/p/pramoedya-ananta-toer/. 



Buku ini pertama kali diterbitkan tahun 1951 dan pada tahun 1965 sempat dilarang beredar oleh pemerintah. Tokoh utama dalam kisah ini adalah 'Aku' yang tidak lain adalah eyang Pram sendiri. Eyang Pram menggambarkan kehidupan pasca kemerdekaan yang hanya memberikan keluasaan bagi pejabat pemerintah memperkaya diri sendiri tetapi masyarakat desa khususnya Blora tetaplah miskin dan terpinggirkan (Masih terjadi sampai saat ini).
 
Berikut alamat sinopsis dan analisa roman Bukan Pasar Malam: http://nur-baeti.blogspot.co.id/2014/06/analisis-novel-bukan-pasar-malam-karya.html dan http://senandungpelayaran.blogspot.co.id/2014/11/politik-dalam-roman-bukan-pasar-malam.html


Jumat, 16 Oktober 2015

Papandayan 2015

Tulisan ini aku tulis karena ke-khawatiranku.
Kecemasan dan ketakutanku.

Aku melihat serta sahabatku, Riki dan Rafi melihat.
Ada beberapa pendaki yang terlihat sengaja membakar pohon-pohon dikanan-kiri jalan menuju Gunung Papandayan.

Saat memotret kejadian pembakaran itu dari dalam mobil.
Beberapa pendaki marah dan menyuruh kami untuk terus melaju maju.

Kami tak menghiraukan, aku tetap memotret pembakaran itu.
Ini gila, kataku!

Mereka, hanya menyamar sebagai pendaki.
Tetapi sebenarnya, mereka-lah pelaku pembakaran itu.

Jadi, seperti ini-lah, kondisimu kini.
Kondisimu, Indonesia.