Minggu, 21 Agustus 2016
Selasa, 26 Juli 2016
Kamu, Jumat soreku yang tenang - Part 1
Hai, apa kabar Jumat soreku yang tenang? Semoga selalu baik dan bahagia.
Saat dirimu sudi membuka dan membaca surat ini, aku sudah dapat membayangkan pasti
kamu bertanya-tanya, "surat apa ini?" Dan berkata, "Teknologi
sudah secanggih ini masih saja komunikasi pakai cara lama seperti ini." Norak!
Untuk kelakuanku ini, aku minta maaf.
Melalui surat ini pula mudah-mudahan tersampaikan maksud hatiku. Aku ingin sekali
kenal dengan dirimu. Aku yang tak tahu bagaimana untuk memulai berteman
denganmu. Mohon maklum atas usahaku kenal dirimu.
Aku sengaja titipkan surat ini melalui tukang jus buah di depan kosanmu
berada. Aku sungguh berterima kasih padanya jika surat ini sampai pula ketanganmu.
Lagi-lagi ini terlihat norak. Mengapa harus tukang jus buah yang aku
pilih? Sedangkan kamu pasti memiliki banyak teman. Tapi bagaimana mungkin aku
tahu siapa temanmu bahkan namamu pun aku belum juga tahu.
-/-
Cerita ini mungkin perlu juga kamu tahu, bagaimana aku pertama kali melihatmu.
Jumat pertama.
Jumat sore yang pasti kamu tidak tahu kapan tetapi aku ingat tanggal berapa
itu, dirimu berjalan dengan tenang melewati aku yang sedang berada di bengkel
motor tua saat perbaiki motorku yang juga sudah tua. Aku dapat pastikan bahwa kamu baru saja pulang dari kantor karena kamu
terlihat begitu letih saat itu. Tak lebih dari tiga detik kita saling pandang
dan begitu mudahnya dirimu mampu membuatku penasaran untuk mengenalmu.
Lagi-lagi hal norak aku lakukan, diam-diam aku ikuti kamu. Kamu yang sempat mampir
ke tukang sate mungkin membeli bekal makan malammu kemudian juga ke alfamart. Sampai aku tahu dimana kamu tinggal.
Kamu pun pasti tahu bahwa ada seorang cowok mengikutimu. Karena sebelum kamu
masuk ke kosanmu tak sengaja kamu melihatku yang berada tak jauh darimu.
Aku memang bodoh untuk hal itu.
Senin sore tiga hari setelah Jumat yang menyenangkan itu aku menunggumu
melewati jalan yang sama. Sayang kamu tak kunjung terlihat sampai sore habis
dimakan malam.
Jumat kedua.
Aku tidak terlalu yakin akan bertemu denganmu. Tetapi aku tidak putus
harapan. Jumat itu aku memang sedikit lelah sehingga aku sengaja membeli jus
buah di depan kosanmu. Jam sudah menunjukan pukul lima lewat tiga puluh menit.
Aku semakin ragu dapat melihatmu. Tetapi takdir menguntungkanku. Kamu berjalan
persis di sampingku yang duduk dibelakang gerobak tukang jus buah. Aku
tersenyum dalam hati karena aku tak ingin terlihat norak di depanmu.
Apa lah daya, aku hanya mampu melihatmu tanpa berkata sepatah katapun. Dan
aku sudah bahagia. Semudah itu.
Karena hanya hari Jumat aku dapat melihatmu. Biarkan lah aku memanggilmu
"Jumat soreku yang tenang". Terima kasih sudah menjadi sedemikian
menyenangkanku. Sesederhana itu.
Terakhir, aku tak tahu apakah engkau sudah memiliki pacar atau bahkan sudah
bersuami. Oleh karena itu, mohon maaf atas kelancanganku ini.
Aku adalah orang yang sejak Jumat 15 Juli telah resmi menjadi "secret
admirer" dirimu tetapi kini tak lagi menjadi rahasia :))
Terima kasih sudah bersedia membaca surat ini. Norak ya? Iya :))))
Aku tak cukup mampu membayangkan jika kamu melanjutkan kekonyolan ini dengan
membalas suratku ini.
Tiba-tiba tukang jus buah di depan kosanmu memanggil aku dan berkata
"anak muda, ada surat balasan darinya untukmu!" Hah? Tidak mungkin.
Jika itu merepotkanmu, aku sisipkan nomor ponselku. Mungkin saja kamu
tertarik untuk memulai pertemanan kita ini.
Sekali lagi, terima kasih.
Senin, 25 Juli 2016
Challenge
As a man I have to challenge myself. If Monday until Friday
I work as liquid process specialist who need much my time to study literature and
made me tough to exercise.
So, I challenge myself to do exercise like push up, sit up,
and cycle until two months.
Let’s
see how it works
Minggu, 24 April 2016
Rekor
Minggu ini aku baru saja membuat satu rekor dalam hidupku. Rekor yang sangat biasa dan mudah dilakukan oleh siapa saja. Tetapi bagi orang sepertiku, rekor ini cukup unik karena terbilang lucu dan sedikit norak. Aku memang suka membaca tetapi kecepatan membacaku terhitung sangat lambat. Bahkan jika boleh dibandingkan jauh lebih cepat laju kura-kura di dalam kardus yang dibawa bocah ingusan saat berkendara sepeda motor daripada kemampuan membacaku saat ini. Keuletan adalah kata lain dari namaku.
Sepekan ini aku baru saja selesai membaca dua buah buku sekaligus. Pertama, Sabtu Bersama Bapak yang ditulis oleh Adhitya Mulya dan kedua, Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi dengan penulisnya adalah Aan Mansyur, idolaku.
Aku membutuhkan lima hari untuk menyelesaikan Sabtu Bersama Bapak dan rekor mulai tercipta saat aku jatuh didunia kesepian dan kesunyian bernama Aan Mansyur. Aku hanya butuh satu hari dan mungkin kurang untuk mengkhatami Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi. Ini hal yang baru bagiku, biasanya aku menghabiskan beberapa hari untuk menelan habis satu buah buku. Rekor yang norak bukan? haha. Dan sampai saat ini, aku masih bertanya-tanya, Apakah tokoh Jiwa dan Nanti benar-benar ada? atau fiktif belaka. Aku kira itu karangan mas Aan saja.
Di bawah meja belajarku masih tersisa novel yang sama sekali belum aku sentuh dan sampai-sampai aroma khas buku barunya sudah lenyap. Tak sadar novel tersebut sudah lama aku beli. Aku bahkan lupa kapan tepat membelinya. Masih terdapat beberapa novel bagus yang menunggu dibaca, Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan dan Ayat-Ayat Cinta 2 milik Habiburrahman El Shirazy. Menarik.
Sabtu, 23 April 2016
Senandung Lirih
Semalam, aku tidur lebih cepat dari biasanya. Kira-kira pukul sembilan malam lampu kamar sudah ku matikan. Kepalaku tiba-tiba pusing . Aku tak tahu sebabnya atau mungkin karena aku baru mengetahui bahwa engkau telah menemukan penggantiku hanya empat bulan setelah kita sepakat untuk berpisah. Tepat.
Empat bulan terhitung cepatsekali dibandingkan dengan aku di sini, hampir dua tahun aku menutup rapat hatiku untuk yang lain. Selama itu pula aku berharap engkau untuk kembali. Karena ku yakin bahwa aku adalah rumahmu. Kita adalah surga kecil saat itu.
Kini, aku coba perlahan untuk menjauh dari jurang pengharapanku. Aku perbaiki rumah ini untuk penghuni yang baru. Entah kapan ia akan datang. Tapi satu hal yang aku syukuri sekarang, rumah ini semakin indah setelah engkau tiada.
Semoga engkau dapatkan apa yang kau cari, yang tak kau temui dariku. Doa ini tulus karena engkau dahulu adalah separuh jiwaku.
Kini, kehilangan tidak perlu sesal. Ia akan kembali kepadaku dalam wujud yang lain yang tidak kalah baiknya.
Empat bulan terhitung cepat
Kini, aku coba perlahan untuk menjauh dari jurang pengharapanku. Aku perbaiki rumah ini untuk penghuni yang baru. Entah kapan ia akan datang. Tapi satu hal yang aku syukuri sekarang, rumah ini semakin indah setelah engkau tiada.
Semoga engkau dapatkan apa yang kau cari, yang tak kau temui dariku. Doa ini tulus karena engkau dahulu adalah separuh jiwaku.
Kini, kehilangan tidak perlu sesal. Ia akan kembali kepadaku dalam wujud yang lain yang tidak kalah baiknya.
Ditulis bersama segelas kopi yang diaduk lembut oleh lagu Senandung Lirih milik Om Iwan Fals.
Langganan:
Postingan (Atom)